Rabu, 16 Juni 2021

Lack Off 2nd Idea

 Oleh : Coach Mohammad Ramli

96% bisnis mati sebelum tahun ke 10 kalaupun lanjut ke tahun berikutnya, bisnis tersebut sudah kurang profitable & stagnan, survei ini dilakukan di amerika, jika survei ini dilakukan di indonesia katanya angkanya lebih tinggi lagi bisa2 99 %.


Banyak pebisnis yang sudah tahu dengan survey di atas, namun sangat sedikit pebisnis yang tahu apa penyebabnya sehingga banyak bisnis yang gagal hingga tak bisa berulang tahun yg ke 10.


Tak banyak pebisnis yg tahu ternyata penyebab bergugurannya bisnis di atas karena 6 kesalahan terbesar yang dilakukan para pebisnis yang familiar di kenal dengan istilah "six biggest mistake" 


1 dari 6 kesalah terbesar itu adalah karena "lag off 2nd idea" yaitu kehilangan ide ke 2, 


apa itu ? 


Begini, dunia ini cepat berubah, behavior atau kebiasaan manusia juga berubah, namun pebisnis sering kali nyaman dengan model bisnisnya saat ini dan enggan melakukan inovasi, dan kreatifitas dalam bisnisnya, sulit menerima masukan, terlalu PD, sehingga bisnisnya berjalan begitu saja.


Itu juga penyebab banyak terpuruknya bisnis disaat pandemi, kenapa karena pebisnis nyaman dengan bisnisnya selama ini tanpa mau belajar, tanpa mau mendengar, tanpa mau berinovasi.


12 tahun lalu sy berinovasi mengeluarkan beberapa produk baru, padahal saat itu produk utama kami lagi laris manisnya, dan banyak teman2 karyawan bertanya2 untuk apa pak produk baru ini kan kompetitor sudah luar biasa pak ? 


He he he aku senyum2 aja, dalam hatiku, apa salahnya sedia payung, eh sedia mobil sebelum hujan kan gak ada salahnya.


Akhirnya saya sendiri yg banyak menghandle produk baru itu, karena karyawan sudah disibukkan dengan produk dan model bisnis utama kami.


2 tahun lalu sebelum covid saya juga meluncurkan kembali 2 produk baru kami, dan lagi2 kedengarannya cukup aneh, bahkan ada manager kami yg kecewa dan kurang mendukung. Akhirnya sayapun berjuang sendiri memulainya hingga bisa dijual ke pasar.


Hari ini ketika lembaga2 sejenis, dan perusahaan2 sejenis mati karena dihantam covid dan regulasi pemerintah, logikanya bisnis kamipun mati, tetapi justru disaat covid kami bertahan dan bertumbuh, memang benar produk utama kami lumayan terpuruk dihantam badai, namun produk2 baru kami alhamdulillah berjaya disaat corona.


Tak perlu ditanya lagi pastilah semua pertolongan Allah, namun yang perlu kita sadari disaat kita mau berperang, selain iman yg kuat yg harus disiapkan, jangan lupa, baju perang anti panah dan sajam, pedang yg kuat dan tajam, dan kuda2 terbaik yg mampu berlari kencang harus kita siapkan. 


2an idea ibarat pedang, baju perang dan kuda2, yang memang harus kita siapkan jauh2 hari, bahka sebelum terjadinya peperangan, karena perubahan begitu cepat, dan regulasi kadang suka menghambat.


Sekarang kitapun menjadi paham, di era 5.0 ini penentu kemenangan dalam dunia bisnis bukan lagi yg besar kalahkan yang kecil, tapi yang agile (lincah) akan kalahkan yang lelet.


Selamat pagi

Salam inovasi

REVAN Institute

Resep Sukses

 Oleh : Coach Mohammad Ramli


Resep sukses ... 


Kebanyakan kita sibuk

Tapi tidak disiplin 


Kita aktif 

Tapi tidak terfokus 


Kita bergerak 

Tapi bukan kearah yang tepat 


Karena itu ... 


Kita perlu membuat daftar ...

Daftar apa ?

Daftar ...

"Berhenti melakukan" 


dan kemudian berani mengatakan "tidak" tanpa rasa bersalah pada kegiatan2 yang tidak membawa kita pada tujuan 


Segerà buat daftar "berhenti melakukan"

Dan segera membuat daftar "yg akan dilakukan" 


Apa daftar yg mesti dilakukan ?

Yaitu kegiatan pada kompetensi inti kita 


Kompetensi inti kita apa ?

Yaitu aktifitas yang jika kita lakukan kita akan sangat gembira walau tidak dibayar, dan dampak aktifitas iti bisa menambah value atau nilai tambah pada bisnis atau karir kita 


Pilih aktifitas inti kita 1, 2 atau paling banyak 3 


Fokuskan 80 % energi pada kompetensi inti kita 


Kemudian delegasikan semua pekerjaan yang bukan kompetensi kita, banyak orang di luar sana yang lebih hebat dari kita dalam melakukan aktifitas non inti kita dan siap dibayar lebih murah 


Kemudian sediakan waktu bebas tanpa aktifitas apapun, tanpa HP, tanpa pekerjaan, sekali2 tanpa anak dan pasangan,  


Karena waktu bebas akan menambah energi kita untuk kembali semangat melakukan aktifitas inti kita 


Selamat mempraktekkan ...

Eksekusi vs Narasi

Coach : Mohammad Ramli

Mengapa narasi besar tak juga 
mampu mewujudkan besarnya visi ? 

Sebab tak banyak yang menyadari antara narasi dengan visi yang akan diraih, ada gap yang sangat besar yang menghalagi yang bernama "eksekusi". 

Begitulah kenyataannya, memang benar, narasi itu  indah, berenergi, dipenuhi kata2 motivasi, inspirasi, dan kadang berapi-api, penuh puja puji, ramai tepuk tangan, menggetarkan, mengharukan, menghanyutkan, dan menggerakkan, penuh dengan sorot mata yang memperhatikan, ringan, karena tak butuh otot yang tegang, karena cukup dengan kreatifitas lisan. 

Namun berbeda sekali dengan dunia eksekusi, perlu disadari eksekusi adalah satu2nya jembatan yang akan menghubungkan antara narasi dengan visi atau tujuan yang akan diraih. 

Tak banyak yg menyadari dunia eksekusi jauh berbeda dengan dunia narasi, eksekusi bukanlah narasi, ia dunia yang berbeda. Walau eksekusi sebaiknya 
diawali dengan narasi. 

Eksekusi itu dunia yang sepi, tak banyak yang menghampiri, sunyi puja puji, banyak membutuhkan energi, menuntut sikap menghargai, penuh onak dan duri, kadang hasil tak jelas sampai badanpun mati, caci maki kadang jadi sarapan pagi, pengorbanan yang tak kenal henti, tak terhitung berapa rugi, menusuk hati, menekan diri, dan membutuhkan kesabaran yang super tinggi, karena jalan yang tertatih-tatih. Karenanya tak banyak yang tahan di jalan ini, banyak yang mundur dan berhenti. 

Karena itu kesuksesan organisasi apapun, dilatar belakangi dengan fokusnya mereka pada eksekusi, bukan sekedar narasi. Banyak organisasi besar yg bertumbuh dan suistainable sampai saat ini, tak terkenal, namun mencengkeram bumi, dimana2 mereka punya posisi, dan mendominasi. 

Fokus pada eksekusi artinya kita berada pada posisi yang penuh arti, yang kuat dan membumi, karena tanpa fokus pada eksekusi, narasi hanya sekedar mimpi. 

Namun ingat, eksekusipun bukan sekedar eksekusi, karena eksekusi juga punya aturan sendiri, ia membutuhkan kapasitas ilmu dan kedisiplinan tingkat tinggi, butuh pemaknaan yang membumi, dan butuh skala prioritas yang tinggi. 

Hari ini banyak pelaku organisasi yang berfikir telah melakukan eksekusi, namun sebenarnya mereka bukan sedang mengeksekusi, mereka hanya menjalani, ya menjalani apa yang mereka pahami. 

Karena itu banyak aktifitas organisasi yang behitu banyak, dan kadang bertubi2 namun bertahun2 tak juga meraih mimpi, bahkan banyak yang stagnan dan tak sedikit yang mati. 

Eksekusi perlu study, perlu mengasah gergaji, karena itu belajar tak kenal henti harus menjadi behaviour pribadi dan juga organisasi. 

Selama datang dunia eksekusi.
Selamat menikmati sarapan pagi
Bagi yg tak puasa hari ini

Rabu, 27 November 2019

TAU DIRI

Pada tahun 2007 saya merantau dari Banda Aceh ke Pontianak....disana saya bertemu guru bisnis dan kehidupan  saya yang mengajarkan  sebuah filosofi hidup "Jangan merasa pintar, tapi pintarlah merasa"

Kata-kata itu menghujam kuat di sanubari saya...kalau dipersingkat makna dari kata tersebut adalah " TAU DIRI"

Ternyata setelah saya pelajari biografi orang-orang sukses di dunia..mereka yang berhasil menggapai posisi tertinggi memiliki soft skill "TAU DIRI" yang luar biasa, skill ini membuat mereka selalu berhasil meniti buih kehidupan dimanapun dan kapanpun waktunya.
=====

ilmu "TAU DIRI" membuat saya mampu melihat kondisi secara realistis dan memiliki strategy yang tepat untuk mengelola "rasa" agar menjadi pemenang dalam setiap peristiwa😎

Saat menjadi karyawan di Bank Indonesia saya  "TAU DIRI" bahwa saya hanyalah staf biasa, sehingga tidak ada pilihan lain untuk bekerja dengan jujur dan taat dengan ketentuan yang ada.

Saat awal-awal merintis bisnis  saya bekerja hingga larut malam...bahkan pernah pada saat pembukaan cabang pertama saya hanya tidur 1 jam sehari selama 1 minggu...bahkan saking kecapekan harus diopname di Rumah Sakit....banyak kawan-kawan bertanya...apa bang Haris gak capek kerja keras seperti ini? Jawaban saya : karena saya " TAU DIRI" bahwa saya bukan anak orang kaya, jadi tidak ada pilihan lain untuk merubah nasib selain bekerja keras.

Saat  bisnis haritsa sudah berjalan,saya belajar untuk "TAU DIRI" bahwa kemajuan Haritsa Baby & Kids hari ini adalah hasil perjuangan bersama team haritsa...oleh karena itu tidak ada pilihan lain selain membuat mereka yang telah membersamai perjalanan ini semakin sejahtera.

Saat mau ekspansi bisnis...saya "TAU DIRI" bahwa haritsa adalah perusahaan kecil yang belum mampu bersaing dengan retailer besar...sehingga tidak ada pilihan lain untuk menang selain mencari lokasi yang belum ada pemain besar dalam bisnis yang serupa....ternyata "TAU DIRI" ini memberikan sukses yang luar biasa di semua cabang haritsa.

Saya belajar untuk "TAU DIRI" bahwa dibalik perjuangan ini ada doa dari orang tua,istri, anak dan keluarga tercinta....sehingga tidak ada pilihan selain membuat mereka bahagia dengan rezeki yang halal, berkah dan bebas riba.

Lawan dari kata tau diri adalah "LUPA DIRI"....

Tak jarang saya berjumpa dengan karyawan yang susah dapat kerja...tapi setelah dapat pekerjaan dia "LUPA DIRI" sehingga tega melakukan fraud dan pengkhianatan kepada perusahaannya.

Tak jarang saya berjumpa dengan pengusaha yang "LUPA DIRI" sibuk memuji diri...seolah-olah keberhasilan ini hanyalah perjuangan seorang diri...sibuk memperkaya diri...dan lupa kesejahteraan karyawannya.

Tak jarang saya berjumpa dengan tokoh publik yang sibuk mengurus orang lain...tapi dia "LUPA DIRI" mengurus anak, istri dan keluarga.

Tak jarang saya berjumpa dengan motivator yang sibuk memotivasi bisnis orang lain...tapi dia " LUPA DIRI" untuk mengurus bisnisnya sendiri.

Tak jarang saya berjumpa dengan pasangan yang memulai semuanya dari nol....tapi setelah berhasil "LUPA DIRI" dan selingkuh sana sini.

dan akhir cerita dari seseorang yang "LUPA DIRI" adalah kejatuhan ke titik nadir terendah !

Akhirnya....kita semua harus "TAU DIRI" bahwa kita hanyalah Hamba yang diciptakan untuk bertaqwa kepada Allah SWT.
"TAU DIRI" untuk melaksanakan perintahNYA...jangan sampai "LUPA DIRI" sehingga berani melawan laranganNYA

Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa...hanya sebagai pengingat diri sendiri agar "TAU DIRI" jangan sampai "LUPA DIRI"

Ketika senang, kita harus membagi hati...
Ketika sedih kita harus menata hati...
Jika ada yg membahayakan, kita harus berhati-hati.

salam,
Muhammad Al Haris

YANG KELIHATAN WAH BELUM TENTU BERKAH

Coba kita ambil hikmah dari berita ini:
___________
Liputan6.com, Jakarta - Banyak yang beranggapan bahwa menjadi miliarder menyenangkan dan bergelimang harta. Namun siapa sangka, dibalik perjuangan seseorang menjadi miliarder, pasti ada berbagai masalah yang menggerogoti hidupnya.

Seperti kisah miliarder satu ini. VG Siddharta, pendiri kedai kopi Cafe Coffee Day (CCD) ditemukan tewas setelah dinyatakan hilang dalam beberapa hari.

Dilansir dari The Wire, Minggu (4/8/2019), pemilik kedai kopi yang merupakan saingan Starbucks di India ini dikabarkan meninggalkan sepucuk surat yang isinya luapan perasaannya yang tidak tahan karena tekanan dari bank, investor, dan otoritas pajak, terkait utang di bisnisnya.

Siddharta sendiri diketahui memiliki keluarga yang sudah berladang kopi selama 140 tahun. Dirinya kemudian terinspirasi dari kedai kopi Jerman, Tchibo, Siddharta akhirnya mendirikan kedai kopinya sendiri di India.

Saat ini, Cafe Coffee Day menjadi kedai kopi terbesar di India dengan 1.750 kafe di lebih dari 200 kota.

Namun beberapa tahun terakhir, Siddharta dilaporkan memiliki pembengkakan utang hingga akhirnya perusahaan kopinya mengalami kerugian terus-menerus.

___________
Jadi begini..

Cabang banyak, kelihatan megah dan mewah belum tentu dalamnya juga wah.
Apalagi jika bisnisnya sumbernya dari utang dengan bunga riba, mau omzet turun gak urusan, cicilan harus tetap dibayarkan.

Salah milih investor juga bakal bikin nyesek, mereka maunya untung.. untung.. untung! Ketika rugi.. rugi.. rugi.. mereka gak peduli! Minta duit kembali.. apalagi jika akadnya salah, misal ngasih modal 100 juta, dijanjikan keuntungan 10% tiap bulan dari modalnya, terjebak riba lagi.

“Itukan di India mas, di Indonesia mah amaaan.. banyak kok mereka sukses yang banyak utang”

Masak siiih.. ayo googling jangan males, ketik: “mati bunuh diri karena utang” maka ribuan berita akan kamu dapatkan.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam  bersabda: “Jauhi tujuh perkara yang membinasakan (membawa pada kehancuran), diantaranya... memakan RIBA” [HR Bukhari 2766 & Muslim 89]

Bagi kita yang muslim hukumnya jelas, mau mbantah apapun yang itu aturannya. Mau ngikut atau enggak.. gitu aja!

Bisnis itu bukan hanya soal omzet, profit, margin, revenue, asset, stock, dan semua istilah-istilah yang gak semua orang paham.

Banyak yang memilih fokus di satu bisnis namun menemukan keberkahannya.

“Kedai saya cuman satu mas, tapi Alhamdulillah dari sini semua ALLAH cukupkan. Pengunjungnya ramai, tiap bulan semua karyawan gak telat gajian, semua kewajiban terbayarkan, saya bisa menafkahi keluarga saya, bisa nabung, bahkan ada sedekah yang rutin saya sisihkan untuk makan anak-anak yatim dan duafa.. dan yang paling penting, saya mendapatkan keberkahan waktu mas, saya gak kemrungsung, gak pusing bayar cicilan utang, tiap adzan berkumandang saya bisa merapat ke masjid dengan hati tenang..”

Masya ALLAH...
sudah paham kan apa arti keberkahan?